Gayamarjo's Perspective through the Eyes of a 17 Years Old
Pengalaman Live In di Gayamharjo
Pada tanggal 22 Oktober 2017, kami, seluruh siswa SMA Yos Sudarso kelas 12 angkatan 2017/2018 berangkat ke desa Gayamharjo yang berlokasi di Yogyakarta untuk tinggal di rumah para penduduk dalam rangka pelaksanaan kegiatan Live In.
Saya ditempatkan di dusun Mongol yang bersampingan dengan dusun Tirto. Medan yang tidak mudah dilalui dengan suhu yang agak ekstrim merupakan salah satu kendala yang kami harus hadapi sebagai pendatang dari kota, namun seiring berjalannya hari, saya-pun sudah semakin terbiasa dengan tebing, jurang, dan jalan curam. Sesaat kami sampai di Gereja Paroki Santa Perawan Maria pada hari senin pukul 07.00 pagi, kaami harus berangkat lagi ke Posko Live In menggunakan truk, baru pertama kali ini saya merasakan naik di belakang truk yang berhimpitan, teriakan seru dan guncangan jalan membuat kami sangat gembira, salah satu pengalaman yang tidak pernah dirasakan oleh kami. Di Posko Live In kami dipertemukan dengan pamong masing-masing, saya dan Victor harus mencari pamong kami sendiri, kami bertanya sana dan sini, akhirnya kita bertemu dengan Bu Veronica istri dari Bapak Agung Warsito. Suaminya pada saat itu sedang bekerja di kota. Saya dan Victor yang membawa tas gunung yang amat berat harus menantang ketinggian daerah perbukitan Gayamharjo. Angin sejuk dan keringat, suatu kombinasi yang membuat saya kegigilan dalam perjalanan ke rumah pamong.
Dalam perjalanan, warga desa Gayamharjo
menyambut kami dengan senyum yang hangat dan tangan terbuka. Sifat inklusif dan
paguyuban yang masih melekat erat dalam keseharian warganya membuat saya sangat
terkesan dan takjub karena baru kali ini saya disambut dengan akrab sekali.
Kami mendaki dan menuruni bukit dan tanjakan yang berhimpitan dengan hutan dan
persawahan hingga tiba di rumah pamong kami. Setelah sampai, kami yang
kelelahan segera dibuatkan teh hangat oleh Ibu pamong kami yang katanya “dapat
mencegah masuk angin”. Ibu pamong kami sangat baik dan perhatian layaknya ibu
kami sendiri. Sifat inilah yang membuat warga desa Gayamharjo menonjol, yaitu
kepedulian dan perhatian yang mendarah-daging. Kami mengobrol sementara dan
memperkenalkan diri kami, Ibu pamong kami, Bu Veronica yang berumur 55 tahun
mempunyai 6 orang anak, setelah suami lamanya meninggal pada umur 61 tahun, tak lama kemudian dia menikah lagi dan
mempunyai seorang anak yang bersekolah di SD Negeri Gayamharjo, anaknya bernama
Pandu dan dia kelas 5. Kami disediakan kamar yang kira-kira berukuran 40x40cm
dengan sebuah kasur kapuk yang sedikit nyaman, dengan lantai rumahnya didasari
dengan semen. Namun dalam kesederhanaan ini saya dapat belajar segala nilai dan
amanat yang tidak dapat diajarkan sebelumnya. Warga Karawang, termasuk saya
mempunyai sifat yang sangat bertolaak-belakang dengan warga di sini. Sifat
eksklusif dan individualis yang tertanam dalam setiap jiwa individu di sana
membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri.
Keesokan harinya, pagi kami diawali dengan
mengantarkan anak pamong yang bernama Pandu ke sekolah yang terletak di bawah
kaki bukit, kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sapai ke sana. Pukul
setengan 5 pagi kita harus sudah bangun, mandi, sarapan serta bersiap-siap
untuk menjalankan keseharian kami yang baru ini, lagipula kami di sini bukan
untuk bermain-main melainkan untuk belajar dan mengambil bagian sebagai warga
desa yang bertanggungjawab. Setelah saya dan Victor mengantar anaknya ke
sekolah. Kami diajak pamong untuk pergi ke pasar, kami berbelanja ikan,
sayur-mayur, dan bahan makanan lainnya. Saya bertemu teman-teman saya yang
lainnya seperti Felicia dengan Yolan dan Amanda dengan Lia. Semua barang yang
didagangkan di sini sangatlah murah jika dibandingkan dengan pasar di Karawang.
Pasar tradisional di desa Gayamharjo sangat dekat dengan persawahan dan ladang
sehingga masih sering dijumpai para warga yang rajin bekerja sebagai petani.
Namun sayangnya, aliran sungai, irigasi, dan hampir semua saluran air sudah
mengering. Warga di sini mendapatkan air dari menimbah sumur yang digali sangat
dalam sebagai mata air, sayapun sering menjumpai bantuan truk air yang kata
pamong saya dikirim dari balai kota Yogyakarta. Lalu kami kembali pulang untuk
beristirahat kembali, kami sampai pulang bercucuran keringat lagi sedangkan Ibu
pamong kami tidak terlihat letih sama sekali., ketidakbiasaan berjalan dengan
keadaan geografis tempat ini membuat kami sangat kelelahan dibandingkan dengan
orang-orang yang lebih tua di sini. Setekag beristirahat kami diperbolehkan
untuk bermain di luar, saya dan Victor memanfaatkan waktu luang untuk mengenal
wilayah sambil berkunjung ke rumah teman-teman. Di jalan, setiap warga
menyambut kami dan mempersilahkan kami datang ke rumah mereka dan bertamu, kami
yang terburu-buru terpaksa harus melanjutnkan perjalanan. Kami awalnya pergi ke
pos Tirto untuk ke warung di rumah Bapak Petrus, kami menjumpai Kezia, Lia,
Evan, dan Johan. Kami kembali lagi pukul 16.00 sore. Pada saat itulah kami
bertemu dengan Bapak pamong kami yang bernama Bapak Agung Warsito, dia bekerja
sebagai kuli bangunan dengan penghasilan sebesar Rp. 50.000,- per harinya, itu juga penghasilan tidak tetap. Penghasilan rata-rata masyarakat di sini perharinya Rp. 30.000,- kata pamong kami, dia biasanya
kembali seminggu sekali pada hari sabtu, namun berhubung adanya keberadaan
kami, dia menyempatkan waktu untuk pulang dengan sebuah sepeda. Kami mengobrol
sementara dan makan malam bersama, lalu kami mendengar sebuah ketukan di pintu
saat saya membukanya ternyata ada Shellina dan Desy yang datang berkunjung,
kebetulan, rumah mereka bersebelahan dengan kami. Kami menghabiskan malam di
sebuah ranjang kapuk yang diletakkan di lantai, walaupun agak kurang nyaman,
kami harus menghadapinya. Nyamuk, semut terbang, dan suara jangkrik menghiasi
malam kami.
Berhubung rumah kami tidak aja jam, kami menjadi
kebingunan menentukan waktu, kamipun harus berkunjung ke tetangga hanya untuk
melihat jam. Pada hari rabu, paginya, saya, Victor, Kevin, dan Phillip pergi ke
pasar untuk membelikan jam dinding untuk pamong kami dan sekalian berbelanja
beberapa bahan makanan. Jalan menuju pasar besarnya sangat jauh sekali, kami
berjumpa dengan teman-teman kami di perjalanan. Setelah kami kembali dari pasar
kamipun beristirahat kembali. Pukul 15.00, kami berkumpul di posko Tirto, yang
ditempati oleh Pak Ari, Pak Maman, Pak Petrus, Pak Yofi, dan Istrinya. Kami
diberi pesan dan arahan mengenai persiapan gotong royong di Sendang Sriningsih,
saya sangat senang sekali karena besoknya saya akan bertemu dengan teman-teman
saya yang lain. Setelah kami kembali pulang, pamong kami memberitahu kami untuk
menemani Desy dan Shellina karena mereka takut, “katanya”, di rumah pamong
mereka pernah ada orang yang meninggal, saya yang mendengar hal ini menjadi
skeptis dan penasaran suasana rumah mereka, berhubung rumah kami bersebelahan
sayapun setuju untuk menemani mereka. Nuansa rumah mereka menurut saya sangat
kelam, berbeda dengan rumah pamong saya, kami ber-empat mengobrol, berbagi
tawa, dan “curhat” selama beberapa jam. Setelah jam menunjukkan pukul 20.30
kamipun segera kembali untuk beristirahat untuk kegiatan gotong royong
besoknya.
Kami berkumpul di halaman pos Tirto pada
pukul 06.00 dan berangkat bersama guru-guru dan teman-teman kami lainnya menuju
Sendang Sriningsih. Kami harus lagi mendaki dan menuruni setiap medan yang
melelahkan. Perjalanan menuju Sendang Sriningsih tidak begitu mudah, pada saat
kami semua tiba di kaki bukitnya, kami sangat terkejut karena ketinggiannya
bukan main. Dengan nafas yang hampir habis, saya akhirnya sampai di Sendang
Sriningsih, saya sangat iri dengan anak IPA yang tidak letih sama sekali.
Karena mereka kebanyakan tinggal di dusun Sendang, Sleman, dan Ngebluk yang
berada dekat sekali dengan Sendang Sriningsih. Sesaat kami semua berkumpul di
sana, kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk membersihkan 3 daerah berbeda di
Sendang Sriningsih. Berhubung saya membawa sapu lidi, saya membantu menyapu
tanah dan dedaunan yang berserakan di bagian atas Sendang Sriningsih, kami
dengan bersemangat membersihkan sendang selama kurang lebih 3 jam, dengan sisa
waktunya dipakai untuk foto kelas dan bersama. Saya bersama dengan teman-teman
saya berfoto ria untuk mengenang momen-momen ini. Pada pukul 12.00 kami semua
dipulangkan untuk kembali ke rumah pamong masing-masing, setelah agak sepi saya
dan teman-teman saya berdoa di patung Bunda Maria dan mencicipi air sumurnya
yang terasa agak masam bagi saya namun menyegarkan. Saya, Yonathan, Alberta,
Amanda, Viona, Lia, dan Joan berkunjung ke warung di Sendang yang kebetulan
diurus oleh teman baik kami yaitu, Amabel dan Eka. Setelah itu saya berkunjung
ke rumah Amanda dengan Lia, dan Joan dengan Viona untuk mengenal daerah
Gayamharjo lebih jauh. Berhubung rumah kami sangat jauh dengan Sendang
Sriningsih kamipun tidak mengikuti Misa Bulan Rosario, jalanan gelap, becek,
dan tidak merata adalah kendalanya. Hari ini pun terasa sama seperti hari
lainnya, diakhiri dengan tidur yang lelap.
Jumat... tidak terasa betapa cepatnya waktu
berlalu, seakan kemarin kami baru sampai di Gayamharjo. Hari itu
adalah hari dimana kita diberikan waktu bebas untuk berekreasi. Saya dan Victor
berencana untuk “mengunjungi” bukit Mentorogo, kami mengajak pamong kami, yang
bernama Bu Veronica, tetapi dia menyuruh kami untuk pergi bersama-sama
teman-teman kami saja.
Ketika waktu menunjukkan pukul 07.30, saya
dan Victor berangkat ke Tirto untuk mengajak teman-teman kami agar ikut
“berkeringat dingin” ke puncak bukit. Udara pagi yang amat sejuk dengan embun
pagi yang masih menempel pada rerumputan hijau adalah hal yang tak dapat
dirasakan di kota. Pagi itu saya bertemu dengan Johan yang sedang meratap ke
arah pepohonan rindang yang memuncak ke atas layaknya gedung pencakar langit.
Dia juga ingin mendaki bukit, tetapi dia sedang menunggu pamongnya Steven
karena mereka berencana pergi bersama-sama, mendengar hal itu saya mempunyai
ide untuk mengajak teman-teman saya yang tinggalnya di dusun Jali Kidul dan
Jali Lor karena di sana tinggal teman-teman terdekat saya. Berhubungan Victor
tidak dekat dengan teman-teman saya, dia lebih memilih menyantai di rumah
pamong Johan. Saya menuruni tanjakan lagi, baru satu tanjakan saja air keringat
sudah menembus baju. Pertama-tama saya mengunjungi rumah Kevin dan Phillip,
mereka masih sarapan pada saat itu, kami berbincang sementara, ternyata mereka
juga ingin mendaki bukit Mentorogo, tetapi saya ingin pergi ke sana bersama
teman-teman saya yang berada di kelas IPS 1 seperti Yonathan, Amanda, Joan, dan
lain-lain. Bukan saya memilih-milih teman, tetapi lebih menyenangkan bila bersama
mereka.
Pada turunan terakhir, pertama-tama saya
sampai di rumah Steffany dan Carolina. Satu ketuk... dua ketuk... tiga ketuk,
tetapi tak ada yang menjawab, lalu saya melanjutkan perjalanan saya ke rumah
selanjutnya, yaitu rumah Yonathan dan Aldi. Saya mulai mengetuk pintu berulang
kali secara lembut dan memanggil nama mereka, ternyata rumah mereka juga tidak ada
penghuninya pada saat itu. Saya mulai jengkel dan bingung, lalu saya
melanjutkan perjalanan saya ke Jali Lor. Saya mengunjungi rumah Amanda dan Lia,
saya mengetuk pintu dan menyaut nama mereka, beberapa menit kemudian pamong
mereka berkata bahwa mereka sedang pergi. Saya semakin jengkel. Terakhir saya
pergi ke rumah Joan dan Viona yang terletak di antara sawah dan kebun. Dari
luar rumah mereka kelihatannya sepi, saya berpikir positif pada saat itu,
mungkin mereka masih sarapan ataupun tidur. Kemudian saya memberanikan diri
untuk mengetuk, satu ketukan... dua ketukan..., lalu saya mendengar suara Viona.
“Puji Tuhan” saya berkata. Akhirnya ketemu juga. Viona mengundang saya masuk
dengan hangat, dia juga bertanya-tanya mengapa saya berkeringat sekali. Saya menceritakan
semuanya dari awal dan diapun tertawa. Saya mengajak mereka untuk pergi bersama
ke bukit Monterogo dan merekapun setuju. Setelah istirahat untuk sementara
waktu kamipun melanjutkan misi kecil kami. Berhubungan kami melewati rumah
Amanda dan Lia lagi kami segera mengecek apakah mereka sudah kembali atau
belum. Ternyata mereka sudah ada, kamipun mengajak merek namum mereka tidak mau
karena kata pamong mereka sangat jauh ke atas.
Saya, Joan, dan Viona sudah sampai di
Tirto. Saya terkejut, ternyata Yonathan, Steffany, Carolina beserta yang
lainnya sudah ada di sana untuk menanjak bukit Mentorogo, saya menceritakan
kembali pengalaman saya pagi tadi, mereka juga tertawa terbahak-bahak. Lalu
kami berangkat ke atas di bawah naungan
sinar matahari yang menyengat. Pemandangan indah yang sayang sekali tidak saya
foto dilewati begitu saja. Di perjalanan kami “ngos-ngosan” , keringat dingin
yang sampai menembus baju hingga hoodie Live In adalah pertanda betapa lelahnya
kami. Orang yang lebih tua saja di sini kuat berjalan jauh, namun kami tidak;
kebiasaan menggunakan kendaraan adalah salah satu faktornya. Kami terus
berjalan naikin curam dan licin sehabis hujan kemarin malam. Kami bercanda ria
seiring jalan dan kamipun lupa bahwa kami selama ini kelelahan, seiring waktu
berjalan matahari semakin terik menyinari kami, keringat juga semakin tidak
karuan. Kamipun harus menerobos hutan yang dipenuhi tumbuhan liar, pada awal masuk hutan sendal Viona putus, saya
menawarkan dia untuk memakai sendal saya tetapi dia menolak. Karena rasa solid
sayapun melepas sendal untuk menemani dia. Lumpurnya terasa sangat dingin dan
licinnya lumut membuat kami semakin kewalahan. Kamipun pada akhirnya sampai di
puncaknya. Kami menjumpai teman-teman kami yang lain yang sedang berfoto ria
dengan kamera. Kami juga melihat guru agama kami, Pa Petrus yang sedang
memotret pemandangan indah. Sayang sekali di antara kita tidak ada yang membawa
kamera untuk mengabadikan momen indah di sini. Pada
akhirnya kamipun harus kembali karena pada pukul 15.00 kita harus berkumpul di
gereja Marganingsih untuk evaluasi Live In dan Misa. Saya tidak akan melupakan
segala pengalaman saya di Gayamharjo, nilai-nilai yang berguna untuk masa depan
akan saya tanam dan saya akan jadikan sebagai pedoman hidup agar dapat menjadi
pribadi yang lebih maju dan tidak mudah jatuh dalam pengaruh buruk.
Saya mendapatkan ilham dan nilai dari penanjakkan bukit Monterogo, walaupun kulit saya mencoklat dan hidung saya menjadi belang. Untuk mencapai “goals” tertentu perlu perjuangan yang kokoh serta tekad yang kuat. Jika kita menyerah di tengah “jalan” maka apa yang kita perbuat akan menjadi sia-sia. Ibaratnya, jika kami menyerah dalam perjalanan ke bukit Mentorogo kami tidak akan bisa menyaksikan keindahannya secara langsung, kami mengatasi kelelahan kami dengan beristirahat sebentar, begitu juga dengan perjuangan, ada waktu untuk mundur dan ada waktu untuk maju. Kita juga membutuhkan “companions” dalam berjuang, jika bersama teman-teman melewati rintangan maka akan semakin mudah dan juga dapat membangun persaudaraan yang semakin kuat.
Evaluasi pada sore hari itu dipimpin oleh Frater Oot, pertama-tama kami
disuruh untuk menuliskan surat untuk orangtua kami mengenai kerinduan kami
kepada mereka. Lalu surat-surat tersebut disegel dengan amplop, saya menjadi
penasaran apakah surat tersebut akan benar-benar diberikan kepada orangtua
kami. Dengan evaluasi ini kami semakin menjadi mawas diri dan lebih mengenal
diri kami sendiri. Setelah selesai misanya, kami, selaku warga Tirto dan Mangol
diperkenankan untuk menaiki truk pickup yang dikendarai oleh Pak Petrus,
tanjakan yang seram dan tanpa penerangan malam, kecuali bulan yang senantiasa
menyinari kami. Pak Petrus dengan beraninya mengendarai truk dengan kecepatan
tinggi tanpa mengundang bahaya. Kamipun akhirnya pulang untuk “packing”
barang-barang kami. Karena kegiatan Live In saya menjadi individu yang lebih mawas diri dan lebih simpatis terhadap orang lain. Saya akan mencoba menjadi lebih ramah terhadap orang banyak dengan menerapkan pola hidup warga Gayamharjo di Karawang.
Pertemuan tidak jauh dengan perpisahan,
kami harus “pamit” terhadap pamong kami, tangisan dan raungan memenuhi gereja
Marganingsih, segala pelukan dan tangis dilepaskan untuk melampiaskan kerinduan,
3 truk siap untuk mengantar kami kembali, pada detik-detik terakhir kami
mengucapkan sampai jumpa terhadap seluruh warga Gayamaharjo. Segala tawa dan
kesedihan di sini tak akan saya lupakan. Ramah-tamah, simpati maupun empati
warganya akan saya jadikan pedoman dalam hidup. Sampai sekarang saya masih
merindukan desa Gayamharjo...










Komentar
Posting Komentar